Langsung ke konten utama

Oktober dan September

Aku tak ingin kita cuma saling mencintai tanpa saling mengisi dengan sesuatu yang penting dan bermanfaat

Senyummu : 'Senyummu mencairkan es yang beku, memadamkan api yang membara, menenangkan ombak yang bergejolak, menghentikan angin yang ribut, mendamaikan jiwa yang gelisah'
Kopi : 'Dari segelas kopi dan tatapanmu yang hati-hati percakapan kita terjadi,melahirkan aroma yang memberantakkan seluruh jagad sukmaku'
Aku heran mengapa cinta begitu cepat? Tapi aku percaya cinta tak butuh waktu untuk datang. Aku percaya pada takdir di belakang yang menginginkan kita berkenalan sehingga aku berani diperkenalkan dan mereka memilih namamu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mama, Aku Rindu !!!

Bel tanda masuk telah dibunyikan sejak sepuluh menityang lalu. Seluruh siswa SMA Tunas Jaya telah masuk ke dalam kelas masing-masing. Seluruh penjuru sekolah sudah sepi sejak bel tanda masuk itu dibunyikan. Akan tetapi, lima menit kemudian terlihat seorang siswi dengan kacamata bulat yang menutupi matanya dan setumpuk buku di tangan kanannya berjalan dengan kepala tertunduk dan langkah yang semakin lama semakin cepat sehingga terkesan sedikit berlari. Langkah seribunya baru berhenti ketika gadis itu sampai di depan pintu ruang kelas bercat coklat kusam yang di atasnya bertuliskan *XII IPA3*. Tumpukan bukunya ia pindah ke tangan kiridan tangan kanannya sedikit ia angkat untuk mengetuk pintu tua di hadapannya. “Maaf, Pak. Saya terlambat.” Kata gadis itu ketika dirinya berada di dalam ruang kelas. “Hmmmmmm. Ya memang kamu terlambat. Kalau saya hitung, sudah dua minggu ini kamu sering terlambat. Apa alasan kamu, Rindu ?” Pak Sanjaya lantas sedikit menginterogasi gadis itu. –Ri...

PENEBUSAN LUKA

Agni sedang di dapur, memotong sayuran yang akan ia masak untuk makan malam. Memasak pada sore hari,   setelah menidurkan putrinya adalah satu-satunya kegiatan yang menyenangkan. Tenang, sembari menyelami dirinya sendiri, dan merenungkan peristiwa-peristiwa yang sering kali terjadi dalam keluarga kecilnya. Bagi Agni, memasak adalah waktu baginya untuk kembali merasakan dirinya sendiri. Tak jarang ia memasak sembari tersenyum geli mengingat tingkah lucu Dinar, tersipu malu mengingat malam yang panas dengan suaminya, atau menangis karena mengingat   scene  sedih dari film yang semalam ia tonton. Seperti sore ini, ia memasak sambil menangis, dari belakang terlihat punggungnya begitu keras bergetar, menahan agar tangisnya tak menimbulkan suara. Agni menangis, bukan lantaran mengingat   scene  sedih sebuah film. Ia menangis, sebab sudah tiga hari ini suaminya belum pulang, tanpa meninggalkan kabar atau semacamnya. Firasatnya buruk, sangat buruk. Bayangan suaminya yan...

Surat dari Ayah

Saat itu hari Sabtu, waktu masih menunjukka pukul 04.30 dini hari. Aku baru saja selesai melaksanakan ibadah solat Subuh di kamar kontrakanku di Jember. Tiba-tiba saja, aku dikejutkan oleh suara telepon yang berdering, dari Ibu. Setelah kuucap salam, kutanyakan pada beliau perihal apa yang terjadi di rumah sampai Ibu menelepon di pagi buta. “Pulanglah, Nak. Jantung bapak kambuh, sekarang keadaannya sangat parah. dia memanggil namamu sejak tadi malam.” Jawab beliau. Ototku lemas seketika, bayangan bapak mengeluhkan namaku sambil menahan sakitnya menikam tepat di ulu hatiku. Memang sudah lama bapak divonis penyakit jantung, tapi sudah lama juga penyakit itu tak pernah kambuh dan menyakiti bapak. Pagi itu, pikiranku berkecamuk, segala kemungkinan terburuk melintas di sana. Tapi aku berusaha untuk tetap   beristighfar, agar tak suudzan pada Allah. Kusegerakan membuat surat ijin untuk bagian akademik kampus. Setelah berpamitan pada ibu kontrakan, aku bergegas berangkat menuju t...