Langsung ke konten utama

Sabtu, 19 Maret 2016

Aku bertanya-tanya apa sebenarnya makna ketika kita bermimpi di siang bolong. Seperti yangbkualami siang ini.
Aku bermimpi namun seolah nyata, seorang lelaki datang ke dalam hidupku, lagi-lagi hanya dengan membawa untaian-uantaian kalimat manis. Kedatangannya seperti halnya dia -seorang di masa laluku-. Entah mimpiku bagai dejavu yang memutar kembali kaset masa lalu yang rasanya ingin sekali kubuang jauh sejauh jauhnya.
Dengan orang berbeda namun porsi keromantisan yang sama lelaki itu hadir,begitu dekat, begitu memikat, namun ketika aku terbangun, aku kembali tersadar akan satu hal.
kisah itu hanya terjadi dalam mimpi, untaian manis itu hanya terucap dalam mimpi, lelaki itu hanya datang dalam mimpi.
Kemudian aku harus dipaksa kembali menikmati hidupku yang kesepian dalam penantian.

Jember, Maret 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat dari Ayah

Saat itu hari Sabtu, waktu masih menunjukka pukul 04.30 dini hari. Aku baru saja selesai melaksanakan ibadah solat Subuh di kamar kontrakanku di Jember. Tiba-tiba saja, aku dikejutkan oleh suara telepon yang berdering, dari Ibu. Setelah kuucap salam, kutanyakan pada beliau perihal apa yang terjadi di rumah sampai Ibu menelepon di pagi buta. “Pulanglah, Nak. Jantung bapak kambuh, sekarang keadaannya sangat parah. dia memanggil namamu sejak tadi malam.” Jawab beliau. Ototku lemas seketika, bayangan bapak mengeluhkan namaku sambil menahan sakitnya menikam tepat di ulu hatiku. Memang sudah lama bapak divonis penyakit jantung, tapi sudah lama juga penyakit itu tak pernah kambuh dan menyakiti bapak. Pagi itu, pikiranku berkecamuk, segala kemungkinan terburuk melintas di sana. Tapi aku berusaha untuk tetap   beristighfar, agar tak suudzan pada Allah. Kusegerakan membuat surat ijin untuk bagian akademik kampus. Setelah berpamitan pada ibu kontrakan, aku bergegas berangkat menuju t...

Mama, Aku Rindu !!!

Bel tanda masuk telah dibunyikan sejak sepuluh menityang lalu. Seluruh siswa SMA Tunas Jaya telah masuk ke dalam kelas masing-masing. Seluruh penjuru sekolah sudah sepi sejak bel tanda masuk itu dibunyikan. Akan tetapi, lima menit kemudian terlihat seorang siswi dengan kacamata bulat yang menutupi matanya dan setumpuk buku di tangan kanannya berjalan dengan kepala tertunduk dan langkah yang semakin lama semakin cepat sehingga terkesan sedikit berlari. Langkah seribunya baru berhenti ketika gadis itu sampai di depan pintu ruang kelas bercat coklat kusam yang di atasnya bertuliskan *XII IPA3*. Tumpukan bukunya ia pindah ke tangan kiridan tangan kanannya sedikit ia angkat untuk mengetuk pintu tua di hadapannya. “Maaf, Pak. Saya terlambat.” Kata gadis itu ketika dirinya berada di dalam ruang kelas. “Hmmmmmm. Ya memang kamu terlambat. Kalau saya hitung, sudah dua minggu ini kamu sering terlambat. Apa alasan kamu, Rindu ?” Pak Sanjaya lantas sedikit menginterogasi gadis itu. –Ri...

When I Miss You

Sabtu, 02 Desember 2015 19.30 Famy, gadis cantik 20 tahun itu terlihat memasuki salah satu kedai kopi paling laris di Bandung yang menjadi saksi cintanya. Saksi susah senangnya, saksi saat cintanya dimulai dan saksi pula saat cintanya berakhir kandas dengan begitu menyedihkan dua tahun yang lalu. Pahitnya kenangan berkombinasi dengan manisnya secangkir capucino selalu menjadi teman setianya mengenang cinta yang tak mungkin dapat ia harapkan lagi. Dua tahun ternyata bukan waktu yang cukup untuk dapat membuat Famy melupakan cinta pertamanya yang bahkan telah hampir terikat sebuah tali pertunangan. Kisah cinta yang telah berjalan tiga tahun lamanya harus berakhir dengan sangat menyedihkan. Oh tidak, lebih tepatnya Famy sendiri yang merasakan kesedihan itu. Nanti pasti kau sesali keputusan dirimu meninggalkan aku Lagu Fredy yang berjudul Nanti mengalun seakan menyambut kedatangan Famy di kedai kopi tersebut. Lagu yang sekali lagi mengikatnya untuk tetap mengenang kebersama...