Senin, 06 Februari 2017

Pulang



Pulang
Oleh : Kuspita Sari
Pukul setengah lima sore, aku baru saja bangun dari tidur. Melangkah sembarangan mendekati jendela kamar, awalnya aku berniat menutup jendela karena hari mulai merunduk ke arah Barat. Namun tanganku terhenti, niat menutup jendela kuurungkan karena merasa takjub melihat sinar senja di ujung hamparan laut luas di samping rumah, sejauh mata memandang lambaian nyiur seperti menjadi penari latar pengantar senja. Sudah lama sekali aku tak melihat keindahan seperti ini. Sejak merantau ke kota, pemandangan senja seperti saat ini tak pernah lagi kulihat karena tertutup bangunan-bangunan menjulang. Nyiur melambai pengiring senja digantikan oleh pemandangan yang menyesakkan mata berupa kemacetan, mengantar senja ke peraduan.
Dulu, ketika usiaku masih memasuki tahun kelima, bapak sering sekali mengajakku menghabiskan sore hari bersama, “mengantar senja” katanya. Mengganggu tidur soreku, memaksaku bangun dengan segala cara, dari menggelitik sampai menggendongku yang masih dalam keadaan tidur di pundaknya lantas membawaku berlari ke luar rumah, demi menghabiskan waktu denganku menatap senja.
Sebenarnya aku bukan anak semata wayang bapak, aku memiliki tiga kakak yang ketiga-tiganya adalah laki-laki. Aku adalah satu-satunya perempuan di rumah ini, tinggal di tengah empat orang laki-laki. Ibu meninggalkan kami semua bersama seorang duda kaya karena menurutnya bapak tak mampu membuat ibu bahagia, masalah ekonomi, klise sekali. Kadang aku berpikir, kenapa ekonomi selalu dikait-kaitkan dengan kebahagiaan. Apakah manusia hanya bahagia dengan kemapanan ekonomi ? diam-diam di sudut hati aku berdoa semoga kelat aku tak besar sebagai perempuan penggila harta sampai meninggalkan keluargaku seperti ibu. Namun aku tak pernah menyesali takdirku yang demikian, aku bahagia, hidup di tengah empat orang laki-laki yang sangat menyayangiku membuatku merasa aman. Meskipun dalam diam aku sering berdoa agar suatu saat ibu berubah pikiran dan kembali pada kami semua.
Bapakku seorang nelayan, walaupun beliau memiliki ijazah yang cukup memadai untuk dirinya bekerja di kantor elite, beliau tetap memilih menjadi seorang nelayan, mungkin itulah yang membuat ibu marah dan meninggalkan kami, ibu berpikir bahwa seharusnya hidup kami akan lebih mapan dan bahagia kalau saja bapak mau memanfaatkan ijazahnya dan bekerja di kantor elite. “Bapak ini memiliki bakat  nelayan yang sangat baik, bapak tetap menjaga kelestarian laut dengan tidak mengambil ikan secara gila-gilaan seperti nelayan lainnya.” Begitu alasannya. “Selain itu, bapak masih bisa memastikan keluarga bapak baik-baik saja di rumah karena kantor kerja bapak tak berada jauh, hanya di depan rumah.” Alasan ini dulu ditambahkan untuk meyakinkan ibu, bahwa bapak sangat peduli pada keluarganya. Meski nyatanya alasan ini pun tak mampu membuat ibu bertahan dan tetap memilih pergi.
Aku adalah anak bungsu dari empat bersaudara, kakak pertamaku namanya Hadi, aku biasa memanggilnya Bang Had. Dia yang paling tak banyak bicara diantara kami, sebagian besar masalah-masalahnya diselesaikannya sendiri, dia juga yang paling bijak, pembawaannya begitu kaku dan dingin pada wanita, kecuali aku tentunya. Namun kini dia telah berkeluarga, hatinya tertambat pada seorang gadis yang dulunya adalah kembang desa, Juita namanya, dan aku lebih akrab menyebutnya Yu Jui, “Dia beda dengan perempuan lain, apalagi perempuan macam ibu.”, katanya suatu ketika. Memang, diantara kami juga, Bang Had yang paling menaruh dendam pada ibu lantaran kepergiannya yang tak bertanggung jawab. Akan tetapi, sejak bertemu Yu Jui pandangan hidupnya tentang perempuan telah berubah dan dia benar-benar siap mempertaruhkan apapun untuk mempertahankan cintanya.
Dulu, keluarga Yu Jui sempat tak menerima lamaran Bang Had, lantaran Bang Had pengangguran katanya. Itu membuat Bang Had murung selama seminggu, enggan keluar kamar. Kupikir, Yu Jui ini benar-benar spesial untuknya, karena tak pernah sekalipun Bang Had semurung itu sebelumnya, bahkan saat ibu pergi dari rumah, keesokan harinya dia telah kembali bermain bersama kawan-kawannya di dekat dermaga.
Lalu setelah lewat seminggu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan dia telah berdandan rapi sekali. Dia bilang hendak merantau ke kota cari kerjaan, supaya lamarannya diterima oleh Lek Parmin, begitu dia pamit pada bapak. Sebelum berangkat dia juga mampir ke rumah Yu Jui, katanya hendak memohon doa restu.
“Saya akan buktikan bahwa saya benar-benar serius ingin menikahi anak Lek Parmin, dan saya akan buktikan bahwa saya bisa membuat Jui bahagia.” Begitu dulu sumpahnya di depan rumah Lek Parmin. Hari itu, aku dan Yu Jui berurai air mata melepas Bang Had di ujung kampung. Aku tak pernah menyangka Bang Had rela mongorbankan segalanya demi cinta, namun aku bangga pada keputusannya.
Dua tahun kemudia, Bang Had menepati janjinya. Bang Had pulang, kembali ke kampung membawa kesuksesan dengan usahanya di kota. Ceritanya begitu haru, menyentuh sisi sentimentil Lek Parmin, dan karena Yu Jui tak kunjung mau dipinang siapapun, maka jatuhlah dirinya pada Bang Had, yang usut punya usut memang adalah cinta pertamanya.
Memang begitulah kampung kami, dahulu pacaran adalah aib. Jika sampai ketahuan dan tertangkap basah, malunya seperti meletakkan kotoran sendiri di wajah, dan perempuan yang sudah berusia lebih dari 20 tahun jika belum menikah akan dicap sebagai perawan tua dan akan malu seluruh anggota keluarganya. Namun, itu dahulu, bertahun-tahun sebelum saat ini. Karena enggan menanggung malu lantaran anaknya tak kunjung menikah, maka diterimalah Bang Had ketika datang kembali ke rumah Lek Parmin untuk melamar Yu Jui.
Kakak keduaku Maritim namanya, Kusebut dia Bang Mar. Aku sangat suka nama yang dimiliki Bang Mar, bagiku begitu dekat dengan alam, cocok dengan kondisi kami yang hidup di daerah pesisir pantai, dan Bang Mar selalu dengan bangga menjelaskan arti namanya sesuai versinya sendiri. Selain itu, Bang Mar adalah abangku yang paling rupawan, dia memiliki hidung yang mancung dengan alisnya yang tebal, senyumnya begitu maut dan mengikat siapapun wanita yang memandangnya. Tubuhnya gagah, tegap dan atletis, tingginya juga sangat proporsional, bagiku Bang Mar sempurna sekali, dan kelak setelah aku tumbuh menjadi remaja, aku selalu berharap bahwa calon suamiku seperti Bang Mar, baik hati dan tampan.
Berbeda dengan Bang Had, Bang Mar begitu hangat dan penyayang, ramah dan sangat fleksibel. Hidup bersamanya akan penuh dengan kejutan dan banyak cerita menarik. Dia juga suka sekali petualangan, semasa SMA dia telah berulang kali pergi mendaki gunung, baik di dalam maupun di luar daerah kami. Kemudian, dia akan bercerita panjang lebar sepulang dari petualangnya.
Bang Mar adalah yang paling dekat denganku setelah bapak. Sejak dulu waktunya banyak dihabiskan bersamaku, biasanya ketika bapak melaut sampai sore, Bang Mar selalu menggantikan bapak menemaniku mengantar senja. Bang Mar adalah yang tersabar diantara kami berempat. Dia bisa menjadi kakak, adik dan anak yang baik secara bersamaan. Dia adalah anak kesayangan, kakak panutan, adik kebanggan, dan menantu idaman. Selain itu, diantara kami bertiga, Bang Mar adalah yang terbaik di bidang akademik, kata bapak “dia mewarisi kecerdasan ibu dengan baik”. Dia selalu rangking paralel di sekolah, tak heran jika dia bisa lolos masuk kuliah jalur PMDK –yaitu tanpa dipungut biaya-.
Kalau tentang masalah cinta, saat SMA sebetulnya Bang Mar pernah menyimpan foto perempuan di kamarnya. Cantik sekali, wajahnya anggun di balik kerudung, foto itu ia simpan di sebuah kotak berwarna coklat –warna kesukaan Bang Mar- yang ia letakkan di atas meja riasnya. Memanglah, diantara kami hanya Bang Mar yang paling teratur, kamarnya rapi setiap hari, dan sebulan sekali seprai kasurnya selalu diganti, Bang Mar juga selalu mencuci pakaiannya sendiri. Kadang sesekali dia juga sering merapikan kamar tidurku. Dia begitu sempurna.
Foto gadis berkerudung itu nyatanya sering dia cium ketika sebelum tidur. Aku tahu setelah beberapa malam kuintai kamar Bang Mar dari lubang celah di kamarnya. Sepertinya abangku sedang kasmaran, saat itu sering sekali dia tampak semangat menggebu-gebu ketika akan berangkat sekolah, semangat mengerjakan apapun, dan senyum-senyum tak karuan dimana pun dia berada. Saat itu aku hanya bahagia melihat abangku menjadi sedemikian tampak bahagia, kelak baru kuketahui bahwa itu adalah efek samping dari virus cinta.
Namun, sepekan kemudian wajah Bang Mar nampak murung, foto perempuan dan kotak berwarna coklat itu tak lagi berada di atas meja riasnya. Matanya begitu sendu. Ternyata baru-baru ini kudengar bahwa perempuan beberapa tahun lalu yang fotonya ada di kamar Bang Mar saat itu telah diperjodohkan dengan lelaki lain dan perempuan itu tak kuasa menolak perintah bapaknya, miris sekali kisah cinta abangku.
Sejak saat itu, tak pernah lagi ada foto wanita di dalam kamarnya, mungkin Bang Mar masih tak bisa melupakan gadis berkerudung itu, mungkin Bang Mar masih ingin mencari yang benar-benar pas di hatinya untuk menggantikan gadis berkerudung itu. Aku tak pernah mengerti alasannya. Satu hal yang pasti, Bang Mar tetap hidup dan menyayangiku setelahnya.
Kakakku yang ketiga adakah Triagung, aku memanggilnya dengan Bang Tri. Namanya juga bagus, cocok dengan dirinya yang memang adalah anak ketiga. Diantara kami, Bang Tri satu-satunya yang pernah membuat bapak harus dipanggil ke sekolah karena dia berkelahi dengan seorang guru.
“Tri bukan bermaksud kurangajar, Pak. Tri membela harga diri yang diinjak-injak. Guru itu telah meremehkan keluarga kita saat Tri bilang ingin melanjutkan kuliah. Bahkan saat itu Tri sedang bicara dengan teman Tri, tapi tiba-tiba guru biadab itu menjawab penuh hinaan. Tri tak terima keluarga kita dihina.”, begitu katanya ketika bapak meminta penjelasan pada Bang Tri setibanya di rumah.
“Bukan dengan cara seperti itu, Nak. Kau bahkan bisa saja membuktikan bahwa keluarga kita tak pantas dihina dengan prestasimu. Tak perlu kau dengar omongan orang yang hanya menyulut amarah.” Kata bapak.
“Ini bukan hanya sekali dua kali, Pak. Guru itu telah amat sering memperlakukan Tri demikian, bahkan tugas Tri yang sudah pasti benar mendapat nilai buruk dari dia. Dia begitu tak adil, Pak. Dan Tri tak pernah tahu alasan dia membenci Tri.” Jawab Bang Tri tetap mempertahankan pembelaannya.
Saat itulah aku benar-benar melihat kasih sayang Bang Tri, caranya membela keluarga kami mati-matian. Dia tak pernah segan atau takut berhadapan dengan siapapun yang melecehkan keluarga kami. Aku menyadari bahwa Bang Tri punya media tersendiri dalam menyayangi keluarga.
...
“Upi, kau belum bangun juga ? perawan tak boleh tidur menjelang Maghrib. Bangun atau Abang siram kau!” aku langsung kembali ke alam sadarku, itu suara teriakan Bang Tri, aku tersenyum mendengarnya, dia memang tak pernah berubah.
“Iya, Bang. Tunggu sebentar, Upi sudah bangun. Bujang tak boleh teriak-teriak begitu, Bang. Seperti ibu-ibu saja.” Jawabku sambil tertawa dan segera menutup jendela. Dari luar tak lagi terdengar sahutan. Mungkin Bang Tri langsung pergi, batinku.
Hari memang telah surup, sebentar lagi Adzan Maghrib akan berkumandang. Aku segera keluar kamar membawa handuk dan sabun untuk mandi. Setelah pintu dibuka, rupanya Bang Tri masih berdiri di depan kamar, wajahnya murung, tegang, sendu, seperti digelayuti kesedihan yang mendalam.
“Loh, masih di sini, Bang. Kukira sudah pergi, kenapa wajah Abang tegang begitu? Abang marah gara-gara Upi tak lekas bangun?” tanyaku masih tak mengerti.
“Ayo ikut ke ruang tamu, ada yang ingin bertemu denganmu.” Matanya menatap lekat mataku, ada kekhawatiran di sana, Bang Tri lalu merangkulku dari samping, aku yang masih tak mengerti menurut saja didampinginya menuju ruang tamu. Di sana rupanya Bang Had dan Yu Jui telah duduk bersisian, mereka tertunduk, dan wajah mereka juga sendu. Di kursi lain, duduk dua orang berseragam yang tak kukenali.
“Bang Had, ada apa? siapa yang ingin bertemu denganku?” tanyaku yang mnasih kebingungan dengan kondisi semacam ini.
“Begini, Dik. Kami dari kepolisian, dengan sangat menyesal memberitahukan bahwa seorang pemuda bernama Maritim ditemukan dalam keadaan tak bernyawa setelah tiga hari dinyatakan hilang dari rombongannya ketika dalam perjalanan pulang dari pendakian gunung Mahameru.”, sampai di situ kalimat seorang yang berseragam itu, selanjutnya yang kudengar hanya desingan suara yang memekakkan gendang telinga, otot-ototku terasa melemas seketika tak mampu menopang tubuhku, untung dengan sigap Bang Tri menangkap tubuhku sebelum terjatuh. Aku menangis tanpa suara.
Bang Mar begitu sehat, bahkan sebelum berangkat ke pendakiannya seminggu lalu ia meneleponku dan berjanji bahwa hari ini dia telah akan tiba di rumah bersama kami, berkumpul bersama. Dia berjanji akan menemaniku mengantar senja. Dia sudah sering kali naik turun gunung, tubuhnya sangat bugar, tak mungkin dia tak bisa mengatasi kesulitan dirinya dalam perjalanan. Lalu sekarang dua orang berseragam ini malah membawa berita bohong bahwa abangku meninggal dunia. Pembohong, tak mungkin abangku, tak mungkin.
Pikiranku terus berkata, berkecamuk, di tengah tangisku yang tanpa suara, yang bisa kulakukan hanya menutup mulutku dengan tangan dan memasrahkan kekuatan tubuhku dalam dekapan Bang Tri.
Dua tahun lalu, bapak telah berpulang meninggalkan kami semua, sehingga formasi kami bukan lagi satu wanita diantara empat pria, tapi hanya bersisah tiga pria, lalu sekarang Bang Mar yang selalu menggantikan ayah menemaniku juga telah berpulang, kenapa Tuhan begitu teganya mengambil orang-orang yang aku sayangi, mengapa Tuhan tak bisa kuajak berkompromi bahwa aku ingin selamanya hidup bersama lelaki-lelakiku. Bahwa aku ingin sejauh apapun aku berjalan, selama apapun aku pergi, aku masih ingin pulang bertemu empat lelakiku yang masih lengkap dan menyambutku dengan peluk hangat.
“Kalian bohong, jangan bodoh mengirim berita sembarangan, tak mungkin abangku meninggal dunia. Kalian berdua, dengar! di rumah ini ada tombak, kalian jangan sembarangan mengirim berita, mungkin yang kalian maksud adalah Maritim yang lain, bukan Maritim kami. Kalian pasti salah rumah. Pergi kalian!” dengan sangat lemah kupaksa kalimatku keluar. Aku benar-benar tak percaya, sebelum melihat jenazahnya.
Kemudian satu dari dua orang berseragam itu berbicara lagi, aku masih tak bisa mendengarnya dengan jelas, mataku juga berkunang-kunang, sebelum semua menjadi gelap dan kudengar semua orang berteriak menyerukan namaku, lalu aku tak ingat apapun lagi.
...
“Upi, bangun, Nak. Abang-abangmu telah menunggu di meja makan, cepat mandi dan turun untuk makan malam.” Suara itu begitu lembut dan menggetarkan, suara seorang wanita yang kurindukan selama tadi kubermimpi.
“Iya, sebentar lagi Upi turun, mau matikan komputer dulu.” Jawabku.
“Yasudah, jangan lama-lama ya, Nak.” Katanya lagi, aku hanya mengangguk.
Kutulis lagi beberapa kata di bagian akhir karanganku, lalu segera aku turun ke ruang makan tanpa mandi terlebih dahulu, perutku sudah lapar, lagi pula aku bisa mandi setelah makan saja. Di sana, di ruang makan telah duduk bapak di ujung meja, di samping kirinya ada ibuku yang menggenggam erat tangan bapak, lalu Bang Mar, dan Bang Tri di samping ibu, sedang di kursi seberang ada Bang Had beserta istrinya, Yu Jui, dan satu kursi kosong untukku. Aku menghentikan langkahku beberapa saat dan diam-diam di sudut hatiku berdoa.
“Terima kasih, Tuhan. Keluargaku masih utuh, semoga cerita dalam laptopku tak pernah benar-benar terjadi, semoga keluargaku semua masih bisa bersama sampai kami benar-benar siap kehilangan, semoga setiap kali aku berjalan terlalu jauh, pergi terlalu lama, terbang terlalu tinggi, aku masih memiliki tempat pulang yang seperti ini, disambut oleh seluruh anggota keluarga dengan senyuman hangat. Jangan pisahkan kami, Tuhan. Kecuali dengan kematian yang bersamaan. Amin.”
...
Namaku Upi, gadis 19 tahun yang sedang berkuliah di sebuah Universitas di Kotaku, jurusan Sastra Indonesia. Aku memiliki bapak seorang nelayan, dan ibuku seorang ibu rumah tangga yang tak diijinkan bekerja mencari nafkah oleh suaminya –bapakku-. Namaku Upi, aku memiliki tiga orang kakak yang ketiga-tiganya adalah lelaki. Formasi yang begini membuat aku dan ibuku termasuk yang paling cantik di rumah kami. Namaku Upi, orang bilang aku mewarisi kecantikan ibuku dengan baik. Namaku Upi,  tinggal di daerah pesisir Jawa Timur. Namaku Upi, dan aku bahagia memiliki keluarga penuh cinta tempatku akan pulang.
Hasil gambar untuk gambar siluet keluarga

Jember, 15 Oktober 2016

Rabu, 30 Maret 2016

Lelaki Asing

Kali ini aku ingin berbagi sebuah pengalaman. Sebenarnya sudah terjadi hampir seminggu yang lalu tepatnya pada hari Kamis pukul 19.00 ketika aku hendak pergi ke tempat biasa aku berlatih teater bersama teman-teman kesenian di Universitas tempatku kuliah.
Malam itu tak seperti biasanya, aku berangkat sendiri ke tempat latihan, temanku tak bisa menjemput karena ada kepentingan, katanya. Karena malas membawa sepeda miniku, terlebih karena telah kumasukkan ke dalam kosan, aku pun memutuskan berjalan kaki mungkin lebih baik, karena letak tempat latihanku juga tak begitu jauh dari kosan.
Aku berjalan saja melewati tempat yang memang sedikit gelap melewati depan gedung Fakultas Kedokteran Gigi, aku berjalan tanpa rasa khawatir sampai sebuah sepeda melewatiku. Kulihat sepintas pengendara sepeda itu melihat ke arahku namun terus melajukan sepedanya namun dengan kecepatan yang semakin pelan. Awalnya kupikir dia salah satu temanku di tempat latihan yang kukenal bernama R, terlintas dipikiranku semoga jika dia benar temanku dia akan berbalik dan mengajakku berangkat bersama. Ternyata benar dia berbalik, aku pun semakin yakin bahwa dia adalah temanku.
Namun, nyatanya salah. Setelah lelaki itu menghentikan sepedanya di dekatku yang kulihat justru wajah asing. Lelaki dengan wajah yang yaa, bisa kubilang tampan, dengan tas di belakang, dan helm yang ia kenakan bisa kupastikan lelaki ini akan pulang kampung, karena memang keesokan harinya ada hari libur.
Alih-alih, dia menghentikan sepedanya di sebelahku dan menawarkan untuk mengantarku sampai depan.
"Mari mbak, saya antar." Katanya setelah menghentikan sepedanya.
"Hahh ?" Mungkin karena terlalu kaget dan panik, hanya kata itu yang kuucapkan dengan ekspresi wajah begitu panik.
"Iya. Mbk mau ke depan, kan? biar saya antar daripada jalan kaki sendirian. Apa lagi jelanannya gelap." Katanya kembali menawarkanku tumpangan, aku yang masih sangat kaget dan tak yakin dengan lelaki ini pun hanya terbengong-bengong di tempat.
"Ayo, mbak!" Katanya lagi. Kupikir, sepertinya lelaki ini tulus menawarkan tumpangan, buktinya dia tak terlihat membentakku seperti seorang begal. Akhirnya aku menerima tawarannya. Namun begitu, aku yang masih sangat tak, hanya diam membisu di belakang lelaki ini yang sedang mengemudi.
"Saya turun di lapangan basket saja, Mas." Hanya itu kalimat yang mampu kuucapkan, setelah itu aku kembali diam.
"Iya, mbak." Jawabnya halus.
Setelas sampai di tempat latihan, aku segera turun.
"Sekali lagi makasi banyak ya, mas." Ujarku sebelum dia pergi.
"Iya mbk. Sama-sama." Jawabnya sambil tersenyum sangat ramah lalu kembali melajukan sepedanya ke arah jalan Kalimantan.
Aku masuk ke tempat latihan masih dengan perasaan bingung. Sampai di sana aku menceritakan hal yang baru saja terjadi padaku, temanku malah tertawa meski juga merasa aneh ada lelaki seperti itu. Ketika temanku menanyakan siapa namanya, aku baru ingat. Aku bahkan tak sempat menanyakan namanya siapa.
"Semoga nanti ketemu lagi dengan cara tak terduga seperti tadi, semoga kita bisa berkenalan." kataku dalam hati, lalu tersenyum.

Sabtu, 19 Maret 2016

Sabtu, 19 Maret 2016

Aku bertanya-tanya apa sebenarnya makna ketika kita bermimpi di siang bolong. Seperti yangbkualami siang ini.
Aku bermimpi namun seolah nyata, seorang lelaki datang ke dalam hidupku, lagi-lagi hanya dengan membawa untaian-uantaian kalimat manis. Kedatangannya seperti halnya dia -seorang di masa laluku-. Entah mimpiku bagai dejavu yang memutar kembali kaset masa lalu yang rasanya ingin sekali kubuang jauh sejauh jauhnya.
Dengan orang berbeda namun porsi keromantisan yang sama lelaki itu hadir,begitu dekat, begitu memikat, namun ketika aku terbangun, aku kembali tersadar akan satu hal.
kisah itu hanya terjadi dalam mimpi, untaian manis itu hanya terucap dalam mimpi, lelaki itu hanya datang dalam mimpi.
Kemudian aku harus dipaksa kembali menikmati hidupku yang kesepian dalam penantian.

Jember, Maret 2016

Kamis, 10 Maret 2016

silahkan Beri Judul

Malam itu aku tlah memutuskan untuk melepaskan,
jauh-jauh hari setelah aku merasa ditinggalkan. terlambat !
mungkin iya, aku terlampau lama mengambil keputusan untuk melepaskannya padahal dia tlah meninggalkanku jauh sebelumnya.
tiba-tiba saja doa-doa naif untuk kebahagiaannya terlontar begitu manis namun getir malam itu lewat sebuah akun media sosial.
Lalu, sejak malam itu tkpernah lagi ada percakapan dunia maya,
tak pernah ada pertemuan secara sengaja,
lalu aku merasa kehilangan..
Kehilangan dirinya yang sejujurnya tak pernah kudapatkan..
lalu aku terluka. LAGI !

Tangisan Rindu

Pak ! bapak, temani ipit malam mingguan yuk !
di dekat rumah sini ada pasar malam, ayo kita datang ke sana, beli kembang gula dan naik komedi putar. atau main game berhadiah boneka.
beli gorengan, beli es cream, terus nanti kalau ipit belepotan makan es creamnya bapak yang bersihin, nanti kita ketawa seneng-seneng, ayo kita kencan ala anak muda, Pak.
pulangnya tunggu malam larut saja, Pak.
kalau perlu kita kencan sampai pagi.
nanti, kalau ada malaikat yang jemput ngajak bapak kembali ke surga bapak sembunyi aja.
biar ipit yang ngomong sama malaikat, kalau bapak masih kangen sama ipit.


Jember, 05 Maret 2016

Kamis, 04 Februari 2016

Surat dari Ayah



Saat itu hari Sabtu, waktu masih menunjukka pukul 04.30 dini hari. Aku baru saja selesai melaksanakan ibadah solat Subuh di kamar kontrakanku di Jember. Tiba-tiba saja, aku dikejutkan oleh suara telepon yang berdering, dari Ibu. Setelah kuucap salam, kutanyakan pada beliau perihal apa yang terjadi di rumah sampai Ibu menelepon di pagi buta.
“Pulanglah, Nak. Jantung bapak kambuh, sekarang keadaannya sangat parah. dia memanggil namamu sejak tadi malam.” Jawab beliau. Ototku lemas seketika, bayangan bapak mengeluhkan namaku sambil menahan sakitnya menikam tepat di ulu hatiku. Memang sudah lama bapak divonis penyakit jantung, tapi sudah lama juga penyakit itu tak pernah kambuh dan menyakiti bapak.
Pagi itu, pikiranku berkecamuk, segala kemungkinan terburuk melintas di sana. Tapi aku berusaha untuk tetap  beristighfar, agar tak suudzan pada Allah. Kusegerakan membuat surat ijin untuk bagian akademik kampus. Setelah berpamitan pada ibu kontrakan, aku bergegas berangkat menuju terminal Arjasa, surat sudah kutitipkan pada teman sejurusan.
Perjalanan menuju rumah yang hanya tiga jam perjalanan, kini terasa lebih panjang dan lama. Aku terus beristighfar dan sesekali mengusap air mata, bayangan bapak serasa menemani perjalanku menuju rumah.
Pukul 08.30 pagi aku tiba di rumah, hatiku was-was melihat para tetangga berkumpul di halaman rumah. Sampai di depan pintu, tanpa sempat mengucap salam, aku langsung memeluk ibu, menangis dalam pelukannya. Aku tak perlu meminta jawaban, jenazah yang sudah dimandikan dan tertutup kain putih telah menjawab semuanya. Bapak sudah pergi.
"Bapak pergi, Nduk. Bapak meninggalkan ibuk. Sampai tadi pagi di hembusan nafas terakhirnya dia masih memanggil namamu, Nduk." seru ibuku disela tangisannya. Matanya bengkak menandakan dia melewati malam-malamnya dengan air mata.
Setelah pemakaman selesai, aku dan ibu berjalan dengan lunglai ke rumah sambil saling berpelukan. Aku masih tak percaya bapak pergi, pada kepulanganku bulan lalu, bapak masih sangat sehat. Bahkan tiga hari yang lalu bapak masih menelepon dan sempat meledekku.
“Ini ada surat dari bapak, buat kamu katanya.” Kata ibu sesampainya di rumah sambil menyerahkan amplop biru yang sangat wangi.
“Bapakmu sangat tahu betul kamu suka warna biru , Nduk.” Lanjut beliau sambil mengusap air mata. Surat itu menambah duka, kututup kamarku dan mulai membuka surat dari bapak, wangi surat ini sama persis seperti aroma tubuh bapak. Rasanya beliau sengaja menyemprotkan minyaknya ke surat ini. perlahan mulai kubaca isi surat itu.

I LOVE YOU bapak Kusman

...

Surat Dari Bapak.
Untuk Si Nduk yang tersayang,
Nduk, kamu sudah dewasa sekarang. Sudah cantik. Maafkan bapak, bapak belum bisa menjalankan amanah kamu waktu bapak datang melamar ibumu. Harusnya bapak masih bertanggung jawab menjaga ibumu. Tapi, mau bagaimana lagi. Allah menurunkan penyakit di jantung bapak yang tiba-tiba saja membuat bapak tak berdaya.
Nduk Iras yang cantik, bapak tahu. Kamu masih belum sepenuhnya menyayangi bapak. Itu wajar, Nduk. Bapak Cuma bapak tirimu. Tapi kamu harus tau satu hal, bapak menyayangi kamu lebih dari bapak menyayangi diri bapak sendiri. Iras adalah anak bapak satu-satunya. Bapak sayang sama Iras.
Nduk, dulu kamu sering sekali cerita sama bapak, kita bercerita sambil kamu duduk di boncengan sepeda onta bapak dan kita jalan-jalan sampai menjelang Magrib, setelah itu ibu marah-marah gara-gara bapak membawamu yang belum mandi, waktu itu kamu masih SMP, dan bapak baru saja menikahi ibumu. Dulu kamu sangat suka menceritakan semua hal yang terjadi di luar rumah kepada bapak.
Nduk, ingat tidak? Dulu kamu sering sekali mengadu pada bapak sambil menangis kalau kamu dimarahi ibu, terus kamu minta bapak untuk memarahi ibu juga. Kamu juga sering bilang kalau ibu orang yang cerewet, terus bapak setuju dan kita berdua tertawa bersama-sama sampai kamu berhenti menangis.
Nduk, kamu memang bukan darah daging bapak. Tapi sungguh bapak mengingat semua yang sudah bapak lewati bersama kamu, putri kecil bapak.
Semenjak kamu melanjutkan sekolah ke SMA, kamu sudah mulai sibuk dengan dunia kamu, sudah tidak mau dibonceng sepeda onta bapak lagi, sudah jarang sekali mau berbagi cerita sama bapak. Kamu lebih sayang sama benda-benda baru kamu, hp, laptop, lalu kamu lebih sering memasang penutup telinga dan tak pernah mau menegur bapak. Saat itu bapak sangat sedih, bapak kehilangan putri kecil bapak. Bapak sangat merindukan putri kecil bapak. Bapak selalu ingin memeluk putri kecil bapak sebelum tidur seperti dulu, tapi ternyata waktu itu kamu selalu tidur lebih malam dari bapak.
Suatu ketika kamu jatuh sakit, Nduk. Waktu itu, kamu dan ayah baru saja bermain hujan dan tertawa bersama di bawah hujan, lalu tengah malam kamu mengigau dengan keras, badan kamu panas dan kamu menggigil. Ibu kebingungan dan panik sambil mengompreskan air hangat di keningmu. Bapak tak kalah paniknya, waktu itu bapaklah orang yang paling merasa bersalah telah membuatmu sakit karena mandi hujan. Bapak ketakutan, bapak takut terjadi sesuatu padamu. Karena suhu badanmu tak turun juga, bapak dan ibu segera membawamu ke UGD malam itu juga. Dari paniknya, bapak lupa hanya keluar menggunakan celana pendek dan baju terbalik. Bapak tak perduli dipandang aneh oleh orang-orang di sana asalkan kamu segera ditangani oleh dokter, Nduk. Yang bapak pentingkan saat itu hanyalah kesehatan kamu, bahkan bapak sangat berharap agar bapak bisa menggantikan posisimu. Setelah tujuh hari di rumah sakit dengan penuh kebahagiaan bapak mejemputmu, membawamu pulang dan menyiapkan makanan favoritmu, kepiting masakan ibu, dan sate.Bapak selalu berharap kamu tak pernah kesakitan seperti saat itu lagi.
Sekarang kamu melanjutkan lagi sekolahmu, berkuliah di Jember dengan Cuma-Cuma karena mendapat bantuan dari pemerintah, kamu memang putri bapak yang paling hebat, bapak bangga sama kamu, sampai saking bangganya bapak selalu menceritakan kepada saudara-saudara bapak tentang keberhasilanmu kuliah tanpa biaya.
Tapi ada satu hal yang membuat bapak sangat sedih. Kamu akan keluar dari rumah dan berada lebih jauh lagi dari bapak. Saat itu, rasanya tidak ada yang mengalahkan rasa khawatir bapak melepaskan kamu jauh dari rumah. Bapak selalu takut terjadi sesuatu yang buruk pada diri kamu, Nduk. Tapi lambat laun, bapak mulai percaya bahwa kamu tetap adalah anak bapak yang hebat dan pasti akan menjaga dirinya dengan baik.
Sejak saat itu, setiap sepertiga malam bapak selalu terjaga melaksanakan solat Tahajud dan setelah itu menangis merintih pada Allah agar Allah senantiasa menjaga putri bapak dan melancarkan segala urusannya.
Nduk, sebenarnya bapak masih ingin sehat dan hadir di acara wisudamu sebagai sarjana. Tapi, kondisi bapak sudah tidak memungkinkan lagi. Kemarin bapak meneleponmu, bapak keluarkan seluruh tenaga bapak agar terdengar baik-baik saja, bapak tidak ingin kamu mencemaskan keadaan bapak dan mengganggu kuliahmu, bapak juga melarang ibu memberitahu keadaan bapak yang sebenarnya. Maafkan bapak, Nduk. Jangan menangis karena tak sempat bertemu bapak untuk terkahir kalinya, bapak sudah sangat bahagia sekarang karena di akhir usia bapak, kamu kembali mau bercerita panjang lebar tentang kuliahmnu, tentang nilai mata kuliahmu yang mendapat nilai E. Hahaha, betapa cerobohnya anak bapak. Jangan sampai itu terulangi lagi, Nduk.
Setelah ini, kamu akan kembali menjalani kehidupan berdua dengan ibu. Jangan sampai menyakiti perasaan ibu. Sayangi ibu kamu, Nduk. Ibu memang suka cerewet, tapi percayalah. Itu karena ibu sangat sayang sama kamu, bahkan mungkin melebihi rasa sayang bapak. Hanya saja ibu tak pandai menyampaikannya dengan manis, maka kamu harus memulainya terlebih dahulu. Kalau bukan karena ibu kamu yang cerewet, tak akan pernah ada Iras yang hebat seperti saat ini, yang membuat bapak bangga menjadi ayah tirimu. Rasanya bapak adalah ayah tiri yang paling bahagia mendapatkan putri yang sebaik, dan sehebat kamu.
Jaga diri Iras baik-baik ya. Jaga ibu juga, bahagiakan ibu ya, Nduk. Berjanjilah sama bapak, kamu akan menjaganya sekalipun kamu telah memiliki keluarga sendiri, karena hanya Iras satu-satunya tumpuan harapan ibu.
Satu lagi, carilah pasangan hidup yang baik, yang terpenting dia seagama. Cari laki-laki yang benar-benar bisa bertanggung jawab kepada kamu. Sekarang bapak tidak bisa ikut menyeleksi calon suamimu, tapi bapak percaya putri bapak yang hebat pasti mampu memilih calon suami terbaik yang pernah ada di dunia. Jangan mencari yang sempurna, Nduk. Tapi carilah kesempurnaan itu bersama-sama dengan pasanganmu kelak.
Sudah dulu ya, Nduk. Sudah sangat banyak yang bapak tuliskan uantuk kamu. Jantung bapak sakit lagi, tapi kamu tak perlu khawatir. Saat kamu membaca surat ini, bapak sudah tak akan pernag merasakan sakit lagi.
Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Nduk.
Tertanda,
Bapak yang selalu menyayangimu.
...
Aku tak kuasa menahan tangis, aku menangis tersedu-sedu di pojokan kasur meremas surat bapak dengan erat. Betapa bapak begitu menyayangiku meskipun aku bukan anak kandungnya.
“Ibu tidak perlu tau apa isi surat dari bapakmu, Nduk. Yang pasti ibu melihat kasih sayangnya begitu tulus untuk kamu, dari bagaimana wajahmu saat membaca surat itu.” Aku menatap wajah tua ibuku, ada kelelahan di sana. Aku memeluknya dengan erat.
“Jangan tinggalkan Iras sampai Iras benar-benar membahagiakan ibu dengan kerja keras Iras sendiri ya, Bu!” aku tahu itu konyol, tapi hanya itu yang ingin kusampaikan.
“Kalau begitu, mari kita berdoa bersama-sama kepada Allah.” Kata beliau lalu beliau mencium keningku dalam-dalam dan lama sekali.
Hari itu kuhabiskan waktu berdua bersama ibu di kamar. Seminggu penuh aku membantu ibu menyiapkan segala yang diperlukan untuk acara tahlilan sampai tujuh hari ke depan.

Selesai
Jember, 05 Februari 2016 (04.42)

Senin, 18 Januari 2016

Bercinta dengan Dosa



Sayang, apa kau ingat ? dua tahun yang lalu kita duduk berdua di tepi pantai ini, saat itu menjelang petang. Kau mengajakku menikmati indahnya senja. Saat itu, tempat ini begitu sepi. Tak banyak orang yang hilir mudik, hanya satu atau dua nelayan yang akan bersiap melaut lewat di belakang tempat kita duduk berdua. Kau merangkulku dengan hangat, kusandarkan kepalaku di bahumu yang kekar. Sungguh aku begitu menikmati senja itu, senja yang tak akan pernah dapat kulupakan.
Ketika hari mulai petang dan hawa dingin mulai terasa menusuk sampai ke tulang, rangkulanmu telah berubah menjadi pelukan, kau kecup bibirku dan kau cumbu aku dengan belaian kata-kata manismu. Kau selusuri setiap jengkal tubuhku, dan malam itu kau tiduri aku di tepi pantai tanpa alas seakan kau benar-benar haus akan cinta.
Sejak malam itu, kita semakin sering melakukan dosa konyol itu, seakan tanpa dosa kau terus mencumbuiku, kau lupakan status kita, kau abaikan semua yang seharusnya menciptakan larangan hubungan di antara kita.
Ibu yang sering dengan sengaja menunggu kepulangan kita berdua mulai menatap curiga, seakan dia telah berhasil membaca gerak-gerik anak gadis semata wayangnya yang mulai bertingkah. Sayang, kau tentu tahu. Saat itu aku benar-benar ketakutan, aku terus merasa berdosa sedangkan kau terus saja mengajakku bercumbu pada saat-saat yang memungkinkan ketika ibuku tak di rumah.
Lalu pada bulan berikutnya, kekhawatiranku semakin menuju titik paling mengkhawatirkan, ketika pada suatu pagi perutku terasa benar-benar mual, awalnya kupikir hanya masuk angin biasa, namun keganjalan terus terasa sampai aku ingat bahwa telah tiga minggu aku telat datang bulan. Kuhitung lagi berulang-ulang, rasanya lututku lemas menghadapi kenyataan. Aku gemetar duduk di pojok kamar sambil menangis memeluk lutut, berkali-kali kau menelponku, berkali-kali ibu mengetuk pintu kamarku. Tak sekali pun aku mau menjawab panggilan kalian. Aku takut, aku cemas.
Setelah dua hari hanya duduk dan menangis di dalam kamar, aku keluar dari kamar, berjalan menuju kamar mandi, berniat membasuh wajah dan memastikan dugaanku dengan ‘test pack’ milik ibuku yang biasanya beliau sediakan di kamar mandi keluarga. Hasilnya benar, aku positif hamil.
Waktu itu aku belum memberitahukan siapa pun. Aku menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Ibu yang semakin khawatir pada keadaanku terus mengetuk pintu  dan memaksaku agar segera keluar dari kamar mandi dan menceritakan apa yang telah terjadi.
Setelah beberapa jam di kamar mandi, aku keluar. Namun bukan untuk menemui ibu. Aku kembali ke dalam kamar, mencari ‘handphone’ milikku dan segera menelponmu. Kuajak kau ke tempat kita biasa melakukan percintaan, sudah kubulatkan tekadku.
Saat itu aku masih ingat, kau tiba lebih cepat sebelum aku tiba di tempat yang telah kita janjikan. Kau mulai mengeluarkan kalimat-kalimat indahmu. Namun aku hanya diam, dan tepat saat kau memelukku, kutikamkan pisau yang sedari tadi kupegang tepat di jantungmu. Di akhir kesadaranmu kau bertanya apa yang telah kulakukan.
“Aku hamil, Sayang. Aku hamil gara-gara kau. Aku benci pada kehamilan ini. Aku tak ingin ibu tahu bahwa ayah dari anak ini adalah ayah tiriku. Aku tak ingin melihat ibuku ikut hancur. Jadi akan lebih baik, jika kau mati. Hahaha, ya. Lebih baik jika kau mati di tanganku. Tidak akan ada orang yang tahu siapa ayah dari anak ini. Hahaha. Aku telah membunuhmu.” Jawabku saat itu yang tanpa kusadari kau telah tak bernyawa. Aku benar-benar telah membunuhmu, Sayang. Siang itu aku menangis tersedu-sedu sambil terus memelukmu.
...
Betapa sebenarnya aku sangat mencintaimu, Ayah tiri sekaligus kekasihku. Aku ingin kau menjadi milikku, bukan milik ibuku. Maka dari itu, kuputuskan untuk membunuhmu agar tak ada di antara aku dan ibu yang memilikimu.
Kuusap air mata yang mengalir saat mengingatmu. Sayang, terima kasih untuk kisah kita dan untuk buah hati yang telah kau tinggalkan dalam hidupku. Aku akan menjaganya dengan baik meski tanpa kau, tanpa sosok seorang ayah.

Jember, 09 Januari 2015